LIGA335 – Industri hiburan Indonesia sedang mengalami perubahan besar. Jika dulu layar kaca menjadi panggung utama bagi artis konvensional, kini sorotan bergeser ke konten kreator digital yang menguasai platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Fenomena ini membuat banyak pihak bertanya—apakah era artis konvensional perlahan berakhir?
Dengan kemajuan teknologi, algoritma media sosial, dan tren konsumsi konten cepat, para kreator muda berhasil mencuri perhatian publik. Mereka bukan hanya dikenal luas, tapi juga menjadi ikon budaya baru yang membentuk selera generasi Z dan milenial.
Kreator Digital Jadi Bintang Baru
Tak bisa dipungkiri, konten kreator kini menjadi “artis zaman baru.”
Nama-nama seperti Reza Arap, Fadil Jaidi, Keanu Angelo, dan Jess No Limit telah membuktikan bahwa ketenaran tak lagi harus datang dari sinetron atau layar lebar.
Platform seperti TikTok dan YouTube memberikan ruang bagi siapa pun untuk menampilkan bakat tanpa harus menunggu kesempatan dari rumah produksi besar.
Keunggulan para kreator ini terletak pada kecepatan adaptasi, interaksi langsung dengan penggemar, dan keunikan karakter pribadi yang autentik.
“Orang sekarang lebih suka yang real, yang dekat sama keseharian mereka,” ujar seorang pakar media sosial, Rara Mahardika, saat diwawancarai Liputan66.id. “Itu yang membuat konten kreator terasa lebih relevan daripada artis di televisi.”
Artis Konvensional Mulai Kehilangan Daya Tarik?
Perubahan perilaku penonton juga berdampak besar pada artis konvensional.
Sinetron dan acara TV kini menghadapi tantangan berat karena penonton beralih ke platform streaming dan media sosial.
Banyak artis yang dulu rutin tampil di layar kaca kini memilih untuk beralih ke dunia digital agar tetap relevan.
Contohnya, Luna Maya dan Raffi Ahmad yang kini aktif mengelola konten di YouTube, bahkan membangun imperium digital entertainment mereka sendiri.
Namun, tak semua artis mampu beradaptasi. Beberapa nama besar mulai jarang terdengar karena kalah cepat menyesuaikan diri dengan dunia online yang serba dinamis.
Kolaborasi Jadi Kunci Bertahan
Menariknya, bukan berarti artis konvensional benar-benar tersingkir.
Banyak yang justru berkolaborasi dengan konten kreator untuk memperluas jangkauan audiens.
Kolaborasi seperti Raffi Ahmad x Deddy Corbuzier x YouTuber gaming, atau artis sinetron muncul di podcast viral, menjadi strategi efektif untuk menjaga eksistensi.
“Kolaborasi adalah masa depan hiburan. Dunia digital membuka ruang tanpa batas,” kata produser kreatif Andi Setiawan.
Dengan kolaborasi, batas antara “artis” dan “kreator” semakin kabur — keduanya saling mengisi dan memperkuat ekosistem hiburan yang lebih luas.
Ekonomi Kreator: Industri Bernilai Triliunan
Menurut data dari Google dan Temasek e-Conomy Report 2025, ekonomi kreator di Asia Tenggara tumbuh lebih dari USD 16 miliar hanya dari sektor konten digital.
Indonesia menyumbang porsi besar berkat tingginya angka pengguna internet dan budaya konsumtif terhadap hiburan digital.
Brand besar kini lebih suka menggandeng kreator yang punya engagement rate tinggi dibanding artis TV yang hanya dikenal lewat popularitas nama.
Kreator bisa menghasilkan uang dari endorsement, iklan digital, merchandise, hingga live streaming—sebuah model bisnis yang dulu nyaris tak terpikirkan dalam dunia hiburan tradisional.
Masa Depan Dunia Hiburan Indonesia
Melihat tren ini, jelas bahwa masa depan hiburan berada di tangan para kreator digital.
Namun bukan berarti artis konvensional tak punya tempat.
Justru dengan pengalaman profesional, kemampuan akting, dan jaringan luas, mereka bisa menjadi mentor atau kolaborator dalam era hiburan hybrid.
Generasi baru penikmat hiburan kini menuntut autentisitas, kedekatan emosional, dan fleksibilitas konten.
Siapa pun yang mampu memenuhi tiga hal itu — entah kreator atau artis — akan tetap bersinar di panggung digital masa depan.
Rebutan Spotlight di Dunia Digital
Tahun 2025 menjadi saksi bagaimana dunia hiburan berubah total.
Konten kreator merebut perhatian publik, sementara artis konvensional dituntut beradaptasi dengan cepat.
Panggung hiburan kini bukan hanya milik mereka yang tampil di TV, tapi bagi siapa pun yang berani berkarya, berbagi, dan berinteraksi secara nyata dengan audiens.
Pada akhirnya, spotlight bukan lagi soal siapa yang lebih terkenal, tapi siapa yang lebih relevan.
Sumber; liputan66.id